Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengapresiasi dan mendukung penuh produk hasil karya siswa sekolah menengah kejuruan seperti mobil Esemka dan pesawat Jabiru. Menurut Menteri Nuh, fenomena mobil Esemka sebenarnya bukan hal baru, karena sejak 2009 sudah masuk dalam kurikulum SMK di bidang otomotif atau teknologi informasi. “Sekarang sudah masuk di fase tahun keempat,” ujarnya dalam jumpa pers pada Senin (9/1), di Gedung A Kemdikbud, Jakarta.
Menteri Nuh mengharapkan persoalan teknis menyangkut kelaikan mobil bisa selesai, seperti uji teknis, uji standar nasional Indonesia, dan uji emisi.
Tampilkan postingan dengan label Artikel Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Bebas. Tampilkan semua postingan
Rabu, 29 Februari 2012
SMK vs SMA
Published :
20.07
Author :
paNji ProGres's
SMK VS SMA
Ada 2 pilihan ketika lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), yaitu SMK dan SMA. Apa perbedaan keduanya? inilah yang sering 'miss' di masyarakat pada umunya.Mayoritas pengetahuan masyarakat tentang SMK sangat kecil sekali, apalagi jika dulunya mereka juga melanjutkan ke SMA bukan SMK. Mereka hanya memandang sebelah mata mengenai SMK. Penilaian mereka terhadap SMK adalah sekolah tempat anak yang tak mampu (maaf) dan menjadi pusat anak nakal apalagi SMK Swasta walaupun pada kenyataannya tidak semua yang seperti itu.
Inilah yang membuat para orangtua lebih suka menyekolahkan anak mereka ke SMA. Baru jika tidak diterima di SMA yang mereka kehendaki terpaksa masuk ke SMK dengan alasan 'yang penting sekolah'. Mengenaskan memang jika SMK hanya dijadikan sebuah pilihan terakhir dan hanya sebagai batu loncatan semata.
Wajah Pendidikan di Indonesia
Published :
19.46
Author :
paNji ProGres's
Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.
Langganan:
Postingan (Atom)
Calendar
!-end>!-local>
!-end>!-my>
!-end>!-my>
Labels
- Artikel Bebas (3)
- Ekstrakulikuler (4)
- Jurusan (3)
- Profil (4)
- YADIKA 5 NEWS (1)
